[FF] Autumn in love / KAUL (Part 2)


Part 1

Part 2

You always in my heart. My love is very strong to you. Gidarigo asseulkeyo. Harujug-il dangsin saenggageul haeyo. Tto bwasseumyeon jokesseoyo. Eonje dasi mannal ju innayo?? Yeoreo gagiro gomawoyo….

091-141-191-141

Aku duduk terdiam di meja belajarku. Memandang layar laptopku yang dipenuhi dengan foto-foto ku semasa aku kecil dulu. Ada juga foto Oppa dan Eonni ku. Lalu disusul dengan foto-foto teman-temanku di Neul Paran. Aku sengaja mengatur foto-foto itu agar dapat bergerak sendiri sesuai urutannya. Tiba-tiba muncul foto-foto jadulku dulu saat bersama Jang In dan Ga Eun dan……

OMMO!!!! What this it????

Tiba-tiba muncul fotoku saat duduk berdua dengan Ji Suk. Di foto itu, aku sedang membaca buku pelajaranku. Sedangkan Ji Suk melirikku dengan senyumannya yang tipis. Sangat tipis, hingga nyaris tak terlihat kalau dia sedang tersenyum.

Siapa yang memasukkan foto-foto tidak penting ini di laptopku???  Padahal, sejak kejadian 3 hari yang lalu itu, aku nyaris tidak pernah berbicara lagi dengan Ji Suk. Pikiranku melayang-layang memikirkan siapa pelaku kejahatan ini. Apakah mungkin Ga Eun lah pelakunya.

“Gaeul-ah,ada  telpon untukmu. Cepat pergi sana.” Kata Eonni yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan membuat aku kabur dari lamunanku yang tidak jelas itu.

Aku segera berlari menuju ruang tengah dan meraih gagang telepon yang diletakkan di meja disebelah tombolnya.

“Yoboseyo… Nuguseyo?? Ige Kim Gaeul imnida.” Kataku tanpa berhenti. Setelah itu, aku tak mendengar jawaban dari seberang sana namun panggilan tetap tersambung. Dilayar telepon rumah juga tertera nomor penghubung. NO PONSEL??? Bukankah justru semakin mahal jika melakukan panggilan dari Ponsel ke telpon rumah?? Ya, setidaknya itu yang aku ketahui. Tapi, si penelpon ini justru diam saja.

“Yoboseyo….?????” kataku sekali lagi. Tapi tetap saja tak ada jawaban hingga akhirnya aku memutuskan hubungan terlebih dahulu.

“Siapa??” kata Amma panasaran begitu melihat ekspresi kesalku setelah menutup telpon.

“Jal moreugesseoyo.” Kataku lalu masuk kedalam  kamar dan mendapati Eonni sedang melihat-lihat foto-fotoku semasa SMU ini.

“Hya, Eonni-ah…. jangan lihat yang itu.” kataku setelah melihat Eonni sedang mengamati fotoku dengan Ji Suk—foto yang entah siapa pengambilnya dan siapa juga yang memasukkannya dilaptopku.

“ Gaeul-ah namjachingu-isseoyo??” kata Eonni yang membuat seluruh sarafku berkontraksi.

“Hya!!! Eonni-ah, dia bukan pacarku…” kataku dengan sedikit membentak Eonni.

Eonni memperhatikan setiap detail dari foto itu lalu tersenyum. “Dia melihatmu sambil tersenyum. Apakah dia menyukaimu??”

“Molla, kurasa tidak. Dia itu sangat menyebalkan. Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi.” kataku sambil memakaikan headset ditelingaku, agar tidak bisa mendengarkan suara Eonni yang jelas-jelas sangat mengganggu pikiranku itu. Ku putar lagu No Other milik Super Junior.

Aku mendengar sayup-sayup Eonni berbicara dengan nada serius. Tapi, sayang sekali… aku tidak mendengarkannya dengan benar. Aku hanya mendengar Eonni menyebut-nyebut kata Ammanya dan Perusahaan apalah namanya. Selanjutnya, ku nikmati lagu No Other ku sampai aku tertidur nyenyak.

Sebenarnya, ada juga sedikit rasa penasaran berkelabat dalam hatiku tentang pembicaraan Eonni tadi.

 

^__^

 

Aku berjalan menuju lorong tempat loker kelas ku. Aku berhenti ketika mendapati Ji Suk membuka lokernya dan menatapku.

“Annyeonghaseyo…” katanya dengan tampangnya yang sok imut.

“Mwo??” kataku lalu mendengus keras. Aku sengaja melakukannya agar Ji Suk tahu bagaimana perasaan sebalku terhadapnya. Aku masih marah atas kejadian waktu lalu. Tapi, dia justru tidak merasa bersalah dan tidak berusaha meminta maaf padaku.

“Kalau begitu, aku ke kelas dulu.” Katanya sambil menepuk pundakku.

“Hya! Kau pikir kau temanku??” kataku kasar.

Tapi rupanya Ji Suk tidak mendengarkan kata-kataku. Dia tetap berjalan dengan pandangan lurus kearah lorong dan tidak menoleh sedikitpun kearahku.

Dia pikir dia siapa???

Lalu seseorang menepuk pundakku dari belakang. Siapa lagi kali ini?? aku memutar badankuku 1800 dan menatap seseorang dibelakangku yang tengah mengangkat tangannya dan berucap salam padaku.

“Annyeong!” katanya sambil tersenyum.

“Jin Sang-ah, Annyeonghaseyo!” balasku dengan senyumku yang paling manis—ya, setidaknya begitulah kata Oppa dan Eonni ku.

Dia tetap berdiri disampingku ketika aku membuka lokerku dan mengambil beberapa buku ku. Mungkin dia ingin pergi kekelas bersama denganku.

“Jamkan!” kata Jin Sang menghentikan pergerakanku yang saat itu tengah menutup loker.

“Wae???”

“Lihat…” dia kembali membuka lokerku yang setengah tertutup dan menarik sebuah surat yang tertempel dibalik pintu lokerku. “Kenapa kau tidak menyadari ada sebuah surat disini??”

“Aku benar-benar tidak menyadarinya.” Kataku memastikan bahwa aku tidak melakukan ini dengan sengaja.

Jin Sang membaca tulisan yang tertera di amplopnya. Lalu berkata, “Neo hante..” katanya sambil memberikan surat yang beramplop merah hati dengan lambang lovenya itu kepadaku.

Annyeonghaseyo… ^^

Bagaimana kabarmu? Apa kau masih ingat nomor 091-141-191-141?? Itu adalah nomor ponselku, kau harus ingat itu. Aku ingin sekali bertemu denganmu di Namsan Tower, tapi tunggu aku menemukan sesuatu yang harus ku cari untuk kuberikan padamu ya. Aku kesulitan mencari barang itu. Tunggu sampai aku menemukannya!

                                        ^__^,,

Bimil

Aku segera memasukkan surat itu lagi kedalam amplopnya dan memasukkannya kedalam tasku agar Jin Sang tidak dapat melihatnya. Tiba-tiba saja aku teringat akan Jin Sang, laki-laki ini selalu bersikap baik dan manis kepadaku. Aku tidak kegeeran, tapi menurut Jang In dia menyukaiku. Aku tidak pernah mengiyakan kata-kata Jang In yang satu itu. Aku tahu bahwa Jin Sang sudah mempunyai seseorang yang ia cintai dan itu bukan aku tentunya. Dan aku juga tidak ingin menutup kemungkinan yang terjadi walaupun sekecil apapun. Apakah pengirim surat itu adalah Jin Sang??

 

^__^

 

Aku berjalan dengan langkah yang tak karuan, dan berhenti tepat di ambang pintu bersama Jin Sang. Hari ini adalah pelajaran Hyeon Seonsaengnim, guru yang sangat ditakuti di Neul Paran, wakil kepala sekolah yang sangat disiplin. Ya, begitulah kira-kira diskripsi yang cocok untuknya.

Disana aku mendapati Jang In yang tengah membicarakan rambut barunya yang pirang itu dengan teman sebangkunya yang baru, Jung San Hwa. Ga Eun yang tengah bercanda ria dengan Shin Ki Bum. Dan Ji Suk yang tengah duduk terdiam dibangkunya.

“Sampai jumpa..” kata Jin Sang ketika kami berpisah untuk duduk di bangku masing-masing.

“Ne…” balasku.

Aku duduk di bangkuku dan mengamati dengan cermat apa yang tengah dilakukan oleh deskmate ku yang meyebalkan itu. mengerjakan pr??? Ya, aku memang terkejut melihat seorang Kang Ji Suk yang merupakan pindahan dari Sekolah Tinggi terkenal itu mengerjakan tugas disekolah. Dia tidak pernah melakukannya sebelum ini. Kira-kira apa yang membuat seorang Kang Ji Suk sibuk hingga ia lupa tidak mengerjakan tugas rumahnya?? Apakah aktivitasnya sebagai seorang calon presdir Mippyeon Grup sebegitu sibuknya??

“Kau sudah mengerjakannya???” katanya tiba-tiba.

“Nae??” kataku bingung.

“Keureom..” katanya sekali lagi memaksa otakku berpikir lebih cepat untuk memilih kata-kata yang cocok untuk aku lontarkan padanya.

“Tentu saja sudah..” kataku dengan cepat.

“Oh…”

Selagi menunggu Hyeon Seongsaengnim yang tak kunjung masuk kedalam kelas, aku menghampiri Jang In dan Ga Eun untuk berbincang-bincang. Tidak mungkin juga kalau aku harus diam saja dibangku itu sambil melihat Ji Suk mengerjakan tugasnya.

“Jang In-ah, bagaimana gelangku?? Apakah cocok??” kataku untuk bertanya bagaimana pendapat Jang In tentang gelang tanganku yang baru. Gelang yang sebelumnya hilang 4 hari yang lalu, ketika aku melempar sapu lidi ke wajah Chang Seonsaengnim.

“Bagus, tapi lebih bagus lagi gelangmu yang waktu itu. Aku sangat menyukainya.” Kata Jang In dengan suara lesuh, seolah ikut kehilangan gelang tanganku yang ku dapatkan dari Oppaku itu.

“Keureom. Apalagi itu dari Ga Won Oppa.” Kata Ga Eun meniru suara Jang In.

“Keurae!!” kataku semangat.

Brakk!!!

Aku tersentak dengan suara keras itu dan yang ternyata berasal dari dubrakan pintu kelas yang didorong keras oleh Ji Suk.

“Pikkyeo.” Katanya pada salah satu temanku yang bediri didepannya dan menghalangi langkahnya.

“Kenapa dia??” kata temanku yang menhalangi itu  dengan wajahnya yang cemas dan ketakutan.

Semua temanku menggeleng-gelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan anak yang menhalangi Ji Suk tadi.

“Ada apa dengan dia?” tanya Ga Eun.

“Molla…” jawabku acuh.

 

^__^

 

Sudah sekitar 3 jam Ji Suk tak kembali ke dalam kelas. Bahkan setelah pelajaran Hyeon Seonsaengnim selesai. Akhirnya, aku putuskan untuk mencarinya. Bagaimana pun dia adalah teman sebangku ku.

Aku berjalan melewati lorong menuju gedung C yang gelap. Lalu menuju atap gedung agar aku bisa melihat semua pemandangan sekolah dari sana. Ya, itulah memang kebiasaanku di sekolah ini. dari sana aku bisa melihat seluruh sekolah dengan jelas. Mulai dari gedung olahraga, lapangan, hingga tempat parkir siswa dan guru. Dan berharap bisa menemukan Ji Suk dari atas sana.

Aku berhenti ketika mendapati sosok jangkung berdiri membelakangiku. Kang Ji Suk!!! Teriakku dalam hati.

“Hya!” pekikku membuat orang tadi berbalik dan menatapku.

“Gaeul-ah, mwo haneunggoya??” katanya sok kenal sok dekat padaku.

Aku berjalan mendekati Ji Suk dan berdiri di sebelahnya. “Kenapa kau pergi dari kelas??”

“Karena tak ingin melihatmu.” Katanya dengan sedikit melucu yang padahal tidak lucu sama sekali.

“Utkijima. Lantas kenapa sekarang kau melihatku???” tanyaku kritis.

“Mollrayo.” Hening sementara. Kami sama-sama tenggelam dengan pikiran masing-masing. Kemudian Ji Suk mengerang. “Errgghh…. haaiisshh… kenapa kau cerewet sekali seperti bebek??”

Bebek?? Dia bilang aku cerewet. Daebak!!!! Ini pertama kalinya ada seseorang yang berkata bahwa aku sangat cerewet. Appa, Amma, Oppa, Eonni, Jang In, dan Ga Eun tak pernah berkata demikian sebelumnya. Ini benar-benar luar biasa.

Ya, sekarang aku baru sadar kalau ternyata aku memang cerewet ketika sedang berhadapan dengan Gyoul (musim dingin)  ini. Mungkinkah sesuatu terjadi padaku?? Apakah aku menyukainya?? Hajima!!!!! Aku tidak boleh seperti ini.

“Geuraeseo??” kataku spontan.

“Ori-ah, kau manis sekali….” kata Ji Suk yang membuat jantungku terpompa lebih kencang.

“Oo..ori-ah?? Mwo??” kataku gagap. Ji Suk tertawa melihatku. Apakah aku ini gugup atau bagaimana??

“Ne. Ori-ah… ori-ah… ori-ah..” kata Ji Suk mengulang kata itu dengan senangnya.

“hhaa..” aku tertawa hambar mencoba mengembalikan konsentrasiku yang hilang entah kemana. “kalau begitu kau adalah Gyoul-ah…” kata tiba-tiba. Aku tidak tahu, kenapa disetiap berhadapan dengannya aku selalu berbicara seenaknya.

“Mwo?? Jangan bilang karena namamu Musim Gugur, lalu kau memberiku sebutan Musim Dingin.” Katanya sambil mencibirku.

“Hhha…. sangat tidak penting sekali. Itu karena sikapmu yang sok dingin dan menyebalkan seperti Musim Dingin.” Kataku sambil melengos.

“Hhha…. arraseo!!” kata Ji Suk dengan tampangnya yang sok manis. Ji Suk berjalan mendekati pembatas balkon dan berteriak keras.

“Hah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya.

“Michigetda!!” kataku sambil melipat kedua tanganku didepan dada.

“Ya, ini memang gila. Ini adalah pertama kalinya bagiku.”

“Untuk apa??”

“Berteriak didepan wanita.” Katanya membuat jantungku semakin berdetak cepat. Apa yang sebenarnya Ji Suk inginkan. Apakah dia mau mempermainkan ku???. Hening sejenak. “Hya, Ori-ah… apa yang akan kau lakukan jika kau menghil…..”

“Dwaesseo!! Ayo kita kembali. Sekarang waktu pelajaran Han Seonsaengnim. Kau harus menyelesaikan ulanganmu.” Selaku begitu mengingat Ji Suk belum mengerjakan ulangannya.

“Hanya aku???”

“Ne…”

Kami mengobrol sambil lalu. Ya, meskipun hanya mengobrol omong kosong dan tidak penting. Tapi, aku merasa senang karena hanya bisa mengobrol dengan Ji Suk. Ya, meskipun dia tetaplah sebagai manusia menyebalkan bagiku.

 

^__^

 

Ji Suk mengerjakan ulangannya dengan tenang. Namun, tiba-tiba ia menyobek kertas ulangannya yang aku pikir sudah selesai itu menjadi beberapa bagian kecil.

“Hya.. mwo haneungoya??” kataku dengan berbisik. Karena aku tidak ingin mengganggu teman-temanku yang tengah membaca dan belajar.

Ji Suk hanya diam saja dan mengganti kertas ulangannya dengan yang baru. Tapi, Ji Suk tidak menulis satu huruf pun di lembar jawabannya itu.

“Hya..” aku mencoba menghalau konsentrasinya.

“Mwo??” katanya singkat jelas dan padat. Lalu berdiri dan menyerahkan kertas ulangan yang kosong itu kepada Han Seonsaengnim.

Apa yang sebenarnya Ji Suk pikirkan?? Dia itu benar-benar laki-laki yang aneh.

Ji Suk kembali dengan lembar jawaban tadi dan kembali duduk di bangkunya. Ia terdiam seperti memikirkan sesuatu.

“Kau kenapa??” kataku sambil mendesaknya untuk memberikan kertas ulangannya kepadaku. Aku berusaha merampas kertas ulangan yang direngkuh oleh tubuhnya itu dan akhirnya aku berhasil mengambilnya meskipun dengan usaha yang keras.

“Kau gila??” kataku setengah merajuk sambil menyobek kertas ulangannya yang putih bersih dengan lingkaran bulat besar berwarna merah ditengahnya.

“Hya! Ori-ah! Mwo haneungoya???” teriaknya padaku begitu aku menyobek kertas ulangannya menjadi beberapa bagian kecil.

“HYA!!!!!!!!! GYOUL-AH!!!!!!!!!!” teriakku karena gemas. Aku tidak sadar kalau suaraku menyeruak sampai terdengar hingga ruangan rapat kepala sekolah.

Dalam hitungan menit, kelasku sudah ramai dipenuhi oleh guru-guru dan teman-temanku dari kelas yang berbeda.

 

^__^

 

Aku berjalan jongkok mengelilingi lapangan yang dingin ini. angin musim gugur menyeruak masuk kedalam ruas-ruas tulangku. Ini dingin sekali.

Tiba-tiba sebuah botol minuman muncul didepan wajahku dan membuat ku jatuh terduduk karena terkejut.

“Neo hante..” kata seseorang yang mengulurkannya untukku.

Aku mendongakkan kepalaku dan menatap si pemberi minuman itu. Pasti Jin Sang, pikirku. Mendengar suara berat laki-laki, aku yakin itu pasti Jin Sang. Tapi, perkiraanku justru salah 100%. Dia bukan Jin Sang, melainkan Ji Suk. Dia! Laki-laki dingin itu?? bagaimana bisa??

“Ayo, terima lah!!” katanya melemparkan botol itu yang segera aku tangkap.

“Sekarang kita teman…” katanya sambil lalu.

Mwo?? Apa katanya tadi?? Aku memang mendengarnya. Tapi, aku tidak percaya dia bilang seperti itu padaku. Aku masih melototkan mataku sambil duduk di rerumputan halaman sekolahku.

 

^__^

 

“Dia bilang begitu????” kata Jang In dan Ga Eun bersamaan.

“Ne.” Jawabku pasti.

“Apakah Gyoul-ah menyukaimu juga??” kata Ga Eun sambil menggigit bibir bawahnya.

“Mungkin saja itu terjadi!” kata Jang In  tiba-tiba bersemangat.

“Mana mungkin??” elakku tak percaya. Terkadang omongan kedua sahabatku itu sering nglantur.

Tiba-tiba ketua kelas kami, Jang Kyu Hee, menghampiri kami bertiga yang tengah mengobrol di kantin.

“Jang In-ah, Ga Eun-ah, dan Gaeul-ah, nanti malam kalian harus datang di acara ulang tahunku ya.” Katanya sembari membagikan sebuah undangan kecil berbentuk hati kepada kami bertiga.

“Ne…” kata Ga Eun yang dulu pernah menjadi mantan pacar Kyu Hee.

“Keureom!” kataku semangat.

Dan yang terakhir menjawab adalah Jang In. “Keurae. Siapa saja yang kau undang???” tanya Jang In. Sebenarnya aku juga penasaran, tapi aku malas mau bertanya pada Kyu Hee dan untung saja Jang In yang malah bertanya.

“Hanya teman sekelas saja dan beberapa kenalanku. Tapi, tidak lupa rekan-rekan ibu dan ayahku.” Jawab Kyu Hee sembari pergi meninggalkan kami dengan melambaikan tangannya.

Hya!!! berarti dia juga mengundang Kang Ji Suk???

“Berarti dia juga mengundang Kang Ji Suk???” kata Ga Eun dengan polosnya. Hah?? Apakah Ga Eun bisa membaca pikiranku?? Kenapa dia mengucapkan kata-kata yang sama persis dengan kata yang ada di otakku???

“Keureom. Apakah Kang Ji Suk akan datang??” kata Jang In sambil melahap habis waflenya.

“Molla..”